Rabu, 03 November 2010

Pendidikan Guru Sekolah Dasar : Logika

Logika
Ditulis ulang oleh : Veradina Novianty

Filsafat ilmu ialah segenap pemikiran mengenai apa dan bagaimana pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta landasan, sifat dan fungsinya bagi kehidupan manusia. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau. Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi, logika, dan etika.
Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar. Pola pikir logis yang dimaksud ialah pola pikir ilmiah yaitu suatu proses berfikir yang berpedoman pada tatacara tertentu berdasarkan landasan teori, konsep atau fakta emperis dan dilakukan secara sistematis dan logis. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan pendapatnya secara tepat. Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi.
Pengertian Bahasa, Logika, jenis, dan Manfaat Mempelajari Logika
A. Pengertian Logika
Sepintas berpikir itu mudah karena kegiatan kita tidak pernah terlepas dari kegiatan berpikir. Disadari atau tidak, kita selalu menarik kesimpulan dari apa yang kita lihat dan dengar. Tapi bila direnungkan secara mendasar, berpikir tidak semudah yang kita kira karena di dalam berpikir yang benar kita dituntut sanggup/cermat untyuk melihat hubungan, kesalahan yang terselubung dan awas tehadap pembenaran yang dicari, segala yang tidak relevan, perasaan pribadi, sentimn golongan, dll. Kesulitan ini yang mendorong kita untuk memikirkan cara kita berpikir dan meneliti asas/ hokum yang mampu mengarahkan pemikiran kita kearah yangbenar atau yang lebih kita kenal dengan sebutan logika.
Logika berasal dari kata logike/logos (Yunani) yang berarti ucapan/pikiran yang diucapkan secara lengkap. Menurut Gie dkk (1980), logika adalah cabang filsafat yang mempelajari asas, aturan dan tata cara penalaran yang benar. Menurut Titus (1964), logic is the study of methods and principles used distinguish good (correct) from bad (incorrect) reasoning.
Ada pula Yang berpendapat logika adalah ilmu pengetahuan (science) tentang penalaran (reasoning), pembuktian (proof), proses berpikir (thinking) dan pengambilan kesimpulan (inference).
B. Bahasa dalam Logika
Bahasa ialah alat berpikir yang bila sungguh-sungguh dikuasai dan digunakan dengan tepat dapat membantu kita cakap dalam berpikir dan berlogika. Oleh karenanya hubungan logika dan bahasa sangat erat kaitannya.
Fungsi pokok bahasa meurut Ihromi (1987) :
1.    Fungsi ekspresif  :  untuk mengekspresikan perasaan/sikap baik yang bernilai ataupun tidak. Ex : aku cinta padamu.
2.    Fungsi normatif : untuk memunculkan/menghalangi tindakan nyata baik yang masuk akal ataupun tidak. Ex : boleh saya pergi sekarang ?
3.    Fungsi informative : untuk mengutarakan hal yang sifatnya faktual baik yang sesuai fakta ataupun tidak. Berdasarkan kenyataan, bahasa yang digunakan dalam logika ialah bahasa yang fungsinya inormatif karena bahasa ini berhubungan dengan masalah benar dan salah.
C. Jenis Logika
Secara historis terdapat dua macam logika.
1.    Logika Naturalis : Logika yang alami muncul sejak manusia itu ada baik secara sadar ataupun tidak karena logika ini merupakan bawaan kodrat manusia sejak manusia mulai berpikir.
2.    Logika Artifisial : Logika yang didorong oleh keterbatasan kemampuan logika alami dan semakin kompleksnya masalah manusia.
Logika artifisial terbagi menjadi dua yaitu:
a)    Logika mayor (material) : realitas hubungan dengan pikiran atau persesuaian pikiran dengan obyek yang dipikirkan.
b)    Logika minor (formal) : mempelajari bentuk berfikir, aturan-aturan ( metode/ prinsip untuk berfikir)terdiri dari logika tradisional(mempelajari asas dan aturan penyimpulan menurut penalaran), dan logika modern (mempertimbangkan penyimpulan yang akan dibuat)
Secara penerapan logika terbagi menjadi 4 yaitu :
1.    Logika individu : adalah anggapan seseorang atas apa yang dia lakukan.
2.    Logika sosial : adalah anggapan perilaku seseorangyang berhubungan dingan orang lain atau menyangkut umum.
3.    Logika yang berhubungan dengan kuun waktu: adalah anggapan yang dapat berubah sesuai dengan kemajuan zaman.
4.    Logika berdasarkan ilmu pengetahuan : adalah suatu anggapan yang sewaktu waktu dapat berubah seiring dengan penemuan baru dari penelitian para ahli yang lebih nyata.
D. Manfaat Mempelajari logika
·         Melatih pengembangan jalan berfikir.
·         Melatih kekuatan berfikir.
·         Membiasakan penyelidikan atau keingintahuan
·         Melatih untuk betfikir cermat



Logika Berbahasa Dan Bernalar
Bahasa pada hakikatnya adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa merupakan pikiran, atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia.
Dasar – dasar penalaran
Dasar penalaran yang kedudukannya sebagai bagian langsung dari bentuk penalaran adalah pernyataan, karena inilah yang digunakan dalam pengolahan dan perbandingan. Menurut Noor Ms Bakry (1983), unsur –unsur penalaran yang dimaksudkan adalah tentang pengertian ini merupakan dasar dari semua bentuk penalaran.
Penalaran merupakan konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Informasi yang disampaikan oleh pihak pertama harus menggunakan kalimat yang bernalar (logis). Syarat ini mutlak dipenuhi, karena jika tidak , informasi yang diterima pihak kedua dapat saja salah atau justru informasi sebaliknya yang tertangkap.
Pemikiran manusia dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, meskipun tidak semua yang terpikirkan dapat diungkapkan dengan tuntas. Dalam penalaran sebagai salah satu dari wujud pemikiran, bahasa merupakan bentuk yang tepat untuk menunjukkan langkah-langkah yang harus dilalui dalam penalaran itu. Karena struktur bahasa itu mencerminkan struktur pikiran itu sendiri. Jadi pikiran seseorang sangat menentukan bahasa itu sendiri, ataupun sebaliknya bahasa lah yang menentukan jiwa seseorang. Yang jelas berbahasa sungguh erat kaitannya dengan berpikir dan bernalar.
Berikut ini beberapa kalimat yang kebanyakan tidak disengaja disampaikan dengan penalaran yang salah.
(1) Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan maka selesailah penyusunan tugas ini.
(2) Kita harus segera mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.
Jika dilihat sepintas, kalimat (1) dan (2) di atas adalah kalimat yang dapat diterima. Namun, jika dicermati akan tampak bahwa kedua kalimat itu tidak bernalar.
Isi kalimat (1) dapat disimpulkan bahwa seolah-olah hanya dengan dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan maka penyusunan tugas itu selesai. Padahal, menurut logika kita akan mengucap syukur setelah kita selesai mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, kalimat (1) seharusnya berbunyi Kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan atas selesainya penyusunan tugas ini.
Kalimat (2) juga tidak bernalar karena kita tidak pernah mengejar sesuatu yang ada di belakang, sesuatu yang tertinggal. Yang kita kejar adalah sesuatu yang berada di depan atau yang sudah meninggalkan kita. Karena itu, kita dapat mengubah kalimat (2) menjadi Kita harus segera mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa lain.
Contoh lain kalimat yang tidak bernalar adalah berikut ini.
(3)               Sore tadi Jalan Sudirman macet total             
(4)               Bakrie termasuk pengusaha terkaya di Indonesia
Kalimat (3) di atas berarti bahwa yang macet adala jalan. Padahal, kita tahu kata macet berhubungan dengan sesuatu yang bergerak. Jika sesuatu yang bergerak itu tidak berfungsi atau berhenti, akan kita katakan macet. Sementara jalan bukanlah sesuatu yang bergerak. Karena itu, tidak bernalar jika jalan dikatakan macet. Dalam kasus ini, sebenarnya yang macet adalah lalu lintas di Jalan Sudirman, sehingga kalimat (3) dapat diubah menjadi Sore tadi lalu lintas di jalan Sudirman macet total.
Sedangkan dalam kalimat (4) terjadi kesalahan penalaran yang disebabkan oleh pemilihan kata. Kata termasuk menyiratkan bahwa yang ada di dalamnya lebih dari satu, sedangkan maknater- dalam terkaya adalah paling. Karena itu, sungguh tidak bernalar jika sesutu yang paling mempunyai anggota lebih dari satu.



Amanat dari film ‘Ron Clark’
·         Tugas guru bukan hanya mengajar, namun mendidik siswa agar menjadi seseorang yang tidak hanya berhasil secara akademis, namun sukses dalam berperilaku yang baik.
·         Dalam kegiatan belajar dan mengajar, sebaiknya kita mengetahui setiap karatkter anak didik kita. Bisa melalui observasi langsung dan bertanya kepada orang tua didik atau interaksi langsung kepada anak didik, tentu saja dilakukan diluar jam pelajaran sekolah.
·         Setelah mengetahui karakter anak didik, barulah kita bisa menentukan metode apa yang efektif dalam kegiatan belajar dan mengajar.
·         Mendidik tidak harus secara otoriter dan keras, namun bagaimana kita sebagai guru, berpikir kreatif dan innovatif agar anak didik dapat menyukai dan mengerti apa yang kita ajarkan.
·         Pehatikan anak didik kita, pastikan ada perubahan positif dalam perilakunya, karena kesuksesan tidak hanya dalam kelas, namun sukses dalam bersosialisasi dengan lingkungan anak didik juga penting.
·         Mendidik dengan penuh kesabaran dan kegigihan adalah kunci utama untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
·         Belajar saling menghormati, anak didik juga harus menghormati gurunya dan temannya. Karena guru adalah orang tua dalam kelas.
·         Seorang guru, harus bersikap bijak dan bersikap positif. Karena guru pasti menjadi contoh atau cerminan anak didiknya di masa depan.
·         Belajar tidak harus selalu terpaku kepada buku , namun melalui cara-cara menyenangkan yang tentunya lebih dimengerti oleh anak didik.
·         Dimanapun tempat kita mendidik, kita sebagai guru harus totalitas dalam mendidik, meskipun sekolah tersebut bukan sekolah unggulan seperti yang di inginkan.
·         Sifat saling menghargai dan saling toleransi juga perlu diterapkan.
·         Jika proses mendidik berjalan baik, maka hasilnya (output)  pun pasti baik.
·         Selain perhatian dari seorang guru, lebih diutamakan perhatian orang tua. Sebab motivasi yang diberikan orang tua, pasti lebih berpengaruh kepada anak didik.
·         Buatlah suasana kelas lebih hangat dan kekeluargaan.

Daftar Pustaka
Karomani,2009.Logika.Yogyakarta : Graha Ilmu
Drs.Surajiwo dkk,2006.Dasar-Dasar Logika.Jakarta : Bumi Aksara
Bekti Patria WebBlog  Serambi Bahasa dan Sastra Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar